Uncategorized

17 Oktober 2016

Jogja tahun lalu

Kita masih berbagi lewat gelombang udara

Jauh terasa dekat

Dekat terasa intim

Jakarta tahun ini

Masihkah dapat berbagi lewat gelombang udara?

Semesta maha tahu 


17 Oktober 2018 -chamas8

Advertisements
Uncategorized

Setitik Rindu


Kokok ayam bersahutan 

Jam pun masih gagah berdetik

Tiga pagi terbangun 


Ratusan kilometer jauhnya

Ratusan hari jauhnya

Masih saja memenuhi kepala


Tiga pagi terbangun

Titik-titik hujan membasahi

Hanya dingin terasa


Tiga pagi terbangun

Bukan ratusan coretan pilu

hanya setitik rindu


27 Desember 2017

Sibolga, Chamas8

Uncategorized

Air Mata

 AIR MATA


Aku sudah lama tak meneteskan air mata. Aku sudah lama tak merasakan Anak sungai air mata mengalir di pipiku. Aku Sudah lama tak merasakan bendungan air mata diwadah kelopak mataku. Benar-benar sudah lama. Aku meneteskan air mata ketika aku membaca kitab suci dari Sang Pemilik Kehidupan Dari Yesaya 49 ayat 15 :

“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” 

Anggapan sebagian manusia di muka bumi ini mungkin aku terlalu berlebihan atau terlalu religi. Kalau kita tidak pernah ada dalam situasi seperti nabi besar yesaya katakan mungkin kita tak akan menganggap ayat itu penting. Tapi bagiku ayat ini sangat berarti.

Uncategorized

Sendu syahdu 

Sendu syahdu berjalan kali ini
Berjalan ditengah hutan yang lebat dan gelap

Hanya sedikit celah-celah matahari yang mencoba masuk kedalam hutan

Merasakan sendu syahdu ditengah hutan

angin berhembus dan membuat dedaunan saling menggesek dengan lembut

Kali ini sendu syahdu begitu terasa nikmat. 
Sendu syahdu diingatkan.. 

Pernah,  menanam pohon di tengah-tengah hutan ini.. Bermula dari biji dipupuk – disiram lalu bertumbuh tunas itu.. 

Tunas itu semakin bertumbuh memperlihatkan batang yang masih kecil,  batang yang masih kecil itu bertumbuh hingga menampakkan ranting

Ranting terlihat kering tak terawat,  tak sengaja kamu 

mematahkan ranting yg hampir berdaun

Masih ada batang dan akar

Tapi,  tak pernah ada pupuk dan air

Matilah pohon itu sebelum waktunya
Sendu syahdu ditengah-tengah hutan lebat. Diantara akar,  batang,  ranting yang kokoh dan dedaunan yang lebat

sendu syahdu tetap berjalan,  berharap tidak ada ditengah hutan ini
Berjalan

Berjalan

Berjalan

Berjalan 

Berjalan

Berjalan

Hingga senja memanggil diujung hutan sana

Dijujung hutan sana ada pantai yang begitu cantik

Sepanjang mata memandang biru laut menenangkan hati

Sepanjang kaki berjalan menyusuri tepi pantai, pasir-pasir lembut terasa menenangkan diri

Selama angin berhembus menerpa pipi dengan lembut terasa menenangkan jiwa
Senja di pantai itu yang sendu syahdu inginkan